MTs Darussalam Subah

Selamat Datang di Website Resmi MTs Darussalam Subah. Sekolah sambil ngaji? Bisa! Yuk mondok di Darussalam aja. Penerimaan Peserta Didik Baru Gelombang II: 1 April 2022 - 25 Mei 2022. (21/03) Ujian Madrasah MTs Darussalam Subah Tahun ini dilaksanakan dengan Berbasis Android. (28/02) 25 Peserta Didik Mengukir Prestasi pada Olimpiade Nasional(OLNAS) Madrasah 20 Februari 2022, 9 medali emas, 8 medali perak, 3 medali perunggu, dan 5 juara harapan. (30/1) Siswa MTs Darussalam Subah Muammar Zidane Jovian Juara Bulutangkis Gemilang Cup 1 Tingkat Nasional. (5/2) (Alhamdulillah, Nadia Bunga Jauza Ma'wa Lolos 15 besar Finalis Olimpiade IPA se-Pulau Jawa Ajang OMADA 7 Brebes

Bukan Kiai Melahirkan Kiai

IN MEMORIAM MBAH YAQUB KE-44
“TA’DHIM PADA KIAI DAN CIKAL-BAKAL PONPES DARUSSALAM”

BUKAN KIAI, MELAHIRKAN KIAI
Oleh Nurul H. Maarif
Alumni MTs Darussalam, Dzuriyyah Bani Ya’qub

Mukaddimah

Kita sering mendengar pepatah kuno “macan melahirkan macan”. Pepatah ini, lumrahnya dimaknai secara metaforis, yakni tokoh akan melahirkan tokoh pula, orang pintar akan menurunkan orang pintar juga, kiai akan menitiskan kiai, dan seterusnya. Atau, pemaknaan terbaliknya, seorang tokoh tidak terlahir dari orang tua yang bukan tokoh, orang pintar tidak terlahir dari orang tua yang bodoh, dan kiai tidak terlahir dari orang tua yang bukan kiai. Prinsipnya, semua terkait faktor trah atau keturunan.

            Secara umum, pepatah ini barangkali ada benarnya. Tetapi, bila kita bicara kasus perkasus dan bicara soal kehendak Allah SWT yang serba mungkin, semua tidak ada yang mustahil. Maksudnya, sangat mungkin orangtua yang bukan tokoh melahirkan putera yang tokoh, orang tua yang tidak pintar melahirkan anak yang pintar, dan orang tua yang sama sekali bukan kiai melahirkan anak yang kiai, bahkan kiai berlevel nasional. Itulah ketentuan Allah SWT yang tidak mungkin disingkap nalar manusia yang sangat dan serba terbatas.

            Salah satu ketentuan Allah SWT yang tidak bisa ditafakkuri nalar itu adalah Yaqub (nama kecilnya Daqub), yang bukan sosok kiai dan bukan sosok berpendidikan formal, tapi Allah SWT menghendaki keturunan-keturunannya menjadi kiai-kiai dan berpendidikan formal. Itulah kemahabesaran Allah SWT. Lima kali lima, bagi Allah SWT bisa menghasilkan 111, 10.130, 51.325 dll, tidak seperti pikiran manusia yang meyakini 5×5 hanya menghasilkan nominal 25.

            Karena faktor di atas lah, kiranya Biografi Singkat “Bukan Kiai, Melahirkan Kiai”, ini penting dipublikasikan. Tak ada tujuan lain, kecuali menjadikannya sebagai ibrah (pelajaran) guna merenungi kemahakuasaan Allah SWT bahwa orang pintar bisa terlahir dari siapapun! Hatta dari orang tua tidak pintar sekalipun. Al-ilm yunalu bi al-jiddi la bi al-jaddi. Ilmu diperoleh dengan ketekunan, bukan warisan nenek moyang. Selain itu, tahadduts bi al-ni’mah juga turut melatarbelakangi penyusunan biografi ini.

 

Mengenal Yaqub Lebih Dekat

            Yaqub terlahir dari pasangan Djoyotaruno dan Karsinah, pada tahun 1908, di Ds.kemiri Kec.Subah Kab.Batang Prov.Jawa Tengah. Yaqub merupakan putra kelima dari lima bersaudara, yakni: 1) Sanem, 2) Suratmo, 3) Samran, 4) Ramat, dan 5) Dakup (Yaqub).

            Di masa kecil, beliau sama sekali tak pernah mengenal, apalagi mengenyam bangku  pendidikan umum (formal). Tidak diketahui secara persis, apa sebab musabab beliau tidak pernah mengenal dunia pendidikan formal. Ada asumsi, saat itu pendidikan formal hanya menjadi hak istimewa keluarga bangsawan. Karena beliau tak terlahir dari keluarga bangsawan, kesempatan untuk berpendidikan formalpun menjadi hilang. Juga diasumsikan, pendidikan formal saat itu, belum begitu menjadi keharusan. Sehingga, beliaupun termasuk yang “tidak peduli” pada pendidikan formal .

            Kendati demikian, tekadnya untuk menuntut ilmu agama, senantiasa menyala-nyala dalam jiwanya, “Ilmu umum nggak dapat tidak apa, asalkan ilmu agama dapat  dikuasai” , barangkali pikir beliau saat itu. Akhirnya, ghirah (semangat) untuk menuntut ilmu agama memang menjadi motivasi yang mengalir memenuhi relung jiwanya.

            Pada usia 14 tahun, beliau buruh menggembala kerbau milik tetangga depan rumah, Mbah Empran. Pekerjaan menggembala ini beliau lakukan selama tiga tahun. Seperti lumrahnya tradisi Jawa soal kontrak kerja menggembala kerbau, bahwa apabila si penggembala seekor gudel (anak kerbau) sebagai upah kerjanya. Beliau termasuk yang mendapat upah gudel itu. Oleh beliau, gudel itu kemudian dijual untuk membeli tanah di daerah Dukuh Kemloko seluas kurang lebih 1 h.a.

            Pada usia 17 tahun, beliau nyantri di Ds.Lebo Kec.Gringsing Kab.Batang, tepatnya dari tahun 1925-1926, di bawah bimbingan Kiai Masyhuri. Pada Kiai Masyuri, beliau ngelmu kitab Safinah gandul atau kitab jebres. Hanya setahun di sana, oleh Kiai Subari  Subah, beliau diajak nyantri ke Ds.Banyutowo Kab.Kendal Prov.Jawa Tengah untuk ngelmu pada Kiai Ahmad Nur Halim. Di pesantren yang baru ini, beliau bertahan selama dua tahun, tepatnya tahun 1926-1928, hingga beliau berusia 20 tahun. Ada asumsi, di pesantren inilah nama beliau yang semula Dakup diubah menjadi Yaqub di kitab-kitab milik beliau yang dikaji di pesantren ini.

            Salah satu yang patut diteladani, beliau nyantri tanpa bekal apapun dari orang tuanya, kendati orang tuanya tergolong berkecukupan secara materi. Hanya saja, orang tuanya tidak begitu peduli terhadap masa depan pendidikan beliau, apalagi pendidikan agama. Akhirnya, beliau nyantri yang kedua kalinya hanya berbekal ketabahan dan kemauan keras untuk menggapai cita mulianya. Itulah keteguhan tekad Yaqub muda.

            Bagaimana beliau memenuhi kebutuhan sehari-hari di pesantren? Beliau tak sungkan-sungkan buruh mengcangkul, matum, dan atau menanam padi pada masyarakat sekitar pesantren. Namun tampaknya, upah dari kerjanya itu masih jauh dari standar kehidupan santri, sehingga dikala siang hari beliau berpuasa. Dan saat berbuka, tak lebih dari sepotong roti dan air tawar (terkadang air tebu) yang menjadi santapan.

            Pada usia 20 tahun, beliau pulang kampung. Sepulang dari “perantauan” itu, pemuda Yaqub berkenalan dengan Raswin dan Markimin, dua juragan tembakau garangan dari Ds. Banyuputih Kec. Limpung Kab. Batang. Perkenalan itu menumbuhkan ketertarikan beliau untuk ikut berkiprah dalam usaha dagang tembakau. Langkah pertama yang beliau ambil adalah membantu usaha tembakau kedua juragan itu.

            Karena ketekunan dan kerajinanya, beliau dipercaya mereka berdua untuk mencari tembakau di desanya, Kemiri. Sebab saat itu, warga Ds.Kemiri dan sekitarnya, seperti Jumbleng, Gagatan, juga Gunungpring, terkenal sebagai petani tembakau. Mulai saat itu, beliau meniti karir sebagi “usahawan” tembakau kecil-kecilan, tanpa diketahui secara pasti apakah beliau berhasil atau tidak dalam usahanya.

 

Pernikahan dan Basis Ekonomi Pemuda Yaqub

            Lama bergaul dengan Yaqub muda, kedua juragan tembakau yang kian percaya pada beliau itu merasa bahwa beliau sudah saatnya membina bahtera rumah tangga, mengingat usia beliau yang sudah memasuki 24 tahun. Kedua juragan itupun diam-diam mencarikan jodoh spesial untuk beliau.

            Seolah sudah direncanakan sebelumnya, kedua juragan itu ternyata sobat karib H. Abu Bakar, yang memiliki seorang dara yang rajin beribadah, tekun, gemar mengaji, dan berakhlak karimah. Dara cantik itu bernama Siti Habibah bint H. Abu Bakar,yang saat itu baru berusia 14 tahun dan bahkan belum haidh. Beliaupun setuju menikahi dara Habibah dari Dukuh Kranji Petamanan  Banyuputih itu.

            Dengan pengalaman mencari tembakau di kampung-kampung itulah, sepasang pengantin baru itu ingin mencoba menanam tembakau sendiri untuk menopang perekonomian bahtera rumah tangga yang baru dirajut. Lahan yang dijadikan gantungan beliau untuk menanam tembakau terletak di hutan Siloko (2,5 km sebelah barat Ds.Kemiri ) yang tandus dan bebatuan. Lahan ini adalah lahan sewaan dari bengkok polisi. Tembakau hasil pertanian itu dijual pada kedua juragan  yang juga “mak comblang” mereka.

            Namun, perekonomian keluarga yang digantungkan hanya pada hasil tembakau itu,dirasa kurang mencukupi kebutuhan. Sehingga, masih dikawasan Siloko yang gersang, beliau sekaligus menanam sayur-sayuran ;seperti jagung, terong, kacang panjang, lombok/cabe, semangka, dan sebagainya. Untuk merawat kebun pertanianya, setiap pagi sehabis Shubuh, mereka berdua berangkat ke ladang. Mereka baru kembali ke rumah menjelang Maghrib. Kegiatan itu mereka lakukan secara rutin setiap hari, tanpa mengenal lelah dan bosan.

            Keadaan seperti itu berlangsung kira-kira enam tahun, hingga mereka dikaruniai anak pertama pada 3 juni 1938, yang diberi nama Ah-mad Dzahabi (KH Achmad Damanhuri Yaqub Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ds.Kemiri Kec.Subah Kab.Batang  Jawa Tengah).

            Setelah kelahiran putra pertama, beliau kemudian hanya bekerja sebagai “usahawan” tembakau. Bertani tembakau dan sayur-sayuran yang sudah dijalaninya selama enam tahun, beliau tinggalkan. Dan ternyata, justru dari berdagang tembakau itulah, perekonomian keluarga kian tercukupi dan bahkan berlebih. Tembakau itu beliau datangkan dari desa-desa sekitar Ds.Kemiri, seperti Gunungpring, Gondang, Sumurwatu, Jum-leng, Gagatan, Bulu, dan lain sebagainya. Usaha dagang beliau ini beliau tekuni hingga akhir hayatnya. Beliau meninggal pada jam 10:15 , hari Ahad, 15 Rajab 1391 H/ 5 September 1971.

 

Ta’dhim Yaqub pada Para Kiai

            Pada tahun 1988, KH Muhaimin Gunardo, Pengasuh Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing Parakan Temanggung  Jawa Tengah, didaulat mengisi ceramah  menjelang Ramadhan di Ds.Kemiri, atas permintaan K Achmad Damanhuri Yaqub (waktu itu belum berhaji). Ceramah itu menjadi bagian dari agenda haul yang pertama kalinya di Ds.Kemiri.

            Ketika itu, KH Muhaiminan yang juga termasuk salah satu jajaran kiai-kiai khash NU itu berbincang banyak dengan K Damanhuri. Disela-sela perbincangan itu, secara mengagetkan, KH Muhaiminan berkata kepada K Damanhuri : “mulai dino iki,Pak Daman kudu ngaji!”

            “Kawulo sampun ngaji Kyai! Ngaji selapanan, mingguan, hajatan, lan sanesipun,”jawab K Damanhuri  yang memang sering berceramah agama .

            “Ora butuh ngaji kuwi! Samean kudu meneng nang ngomah. Sing ngaji santri siji keno. Kitab Safinah jebres, Jurumiyyah yo keno. Moso ora uripo. Ora usah dagang! Ora usah Usaha! Moso ora pinter kajio !” timpal kiai yang akrab disapa Mbah Muhaiminan itu .

            “Apa kira-kira ada santrinya, padahal itu adalah daerah minus agama ?”.

            Nggak usah ditanyakan ! Ada muridnya ! Aku wis weruh, panggonane kene ”kimplang-kimplang”.

            “Bagaimana dengan airnya ?”.

            “Yang memberi air Allah SWT. Ojo bingung! Sampean itu bisanya ngitung 5×5=25. Aku tahu perjuangan sampean banyak, tapi kurang berhasil. Kalau Allah SWT, 5×5 bisa 100, bisa 1000, bisa 1 juta, dan seterusnya. Apa sampean tidak mengerti, polisi atau tentara yang ngawulo pada komandannya saja dijatah beras dan pakaian. Tentu saja, luwih-luwih jika sampean ngawulo pada gusti Allah SWT dengan memperjuangkan agama-Nya. Insya Allah sukses kabeh”.

            K Damahuri yang memang belum berfikir jauh kesana, hanya mendengarkan saja dengan ta’dhim, apa-apa yang diutarakan kiai yang terkenal dengan linuwih kasyaf atau weruh sakdurunge winarahnya itu.

            “Sekarang aku buka rahasianya. Semua ini bukan lantaran sampean nyantri lama. Namun karena bapak sampean (Yaqub) dulu banget tresno pada kiai-kiai. Bapak sampean sangat ta’dhim pada ulama” jelas KH Muhaimin .

            Mendengar ungkapan itu, K Damanhuri sontak kaget. Subhanallah! Ternyata, apa yang dilihat KH Muhaiminan sebagai “panggonan kene kimplang-kimplang” itu, sebab beliau (Yaqub) sangat mencintai dan ta’dhim pada para kiai. Kagetnya lagi sepengetahuan K Damanhuri, selama ini KH Muhaiminan belum pernah mengenal siapa sebenarnya bapak dari K Damanhuri itu. Tapi, melalui pendekatan batinnya, KH Muhaiminan ternyata telah tahu banyak tentang beliau. Bahkan pengetahuannya melebihi putra dan istrinya sendiri. Akhirnya, sebagai santri yang memang sudah seharusnya sam’an wa tha’atan pada sabda kiai, K Damanhuri mangut-mangut dan menyetujui usulan KH Muhaiminan itu. K Damanhuri pun mulai mengajar ngaji secara menetap di kediamannya, dengan jumlah santri seadanya. Ini menjadi cikal bakal pendirian Ponpes Darussalam.

            Terbukti, Ponpes Darussalam yang didirikan KH Ahmad Damanhuri Yaqub beserta keluarga pada 1988, memang ”kimplang-kimplang”, santrinya ramai dan maju pesat dalam waktu yang relatif singkat. Santri, baik putra maupun putri, berdatangan dari berbagai wilayah,bahkan dari Banten, Lampung, Jambi juga Aceh.

            Setelah dialog dengan kiai kasyaf itu, K Damanhuri beserta ibunya, Siti habibah, yang kadung penasaran, mencoba menapaktilasi sejarah perjalanan Yaqub ketika muda. Dari berbagai sumber yang ada, didapati keterangan bahwa beliau memang sosok yang sangat mencintai, menghormati, dan ta’dhim pada para kiai .

            Menurut KH Achmad Damanhuri Yaqub, bukti-bukti penghormatan yang besar beliau pada kiai-kiai antara lain: pertama, setiap mengadakan pengajian, beliau selalu mengklaim, bahwa hanya beliau yang “berhak” mengurusi pendanaan pengajian itu, seperti tempat singgah, jamuan makan dan amplop untuk kiai. Tidak ada seorangpun yang diperkenankan memberi sumbangan sepeserpun. Semua menjadi tanggungan dan tanggung jawab beliau .

            Kedua, seringkali beliau meminta nasihat kepada para kiai. Bila kiai menasehatinya, beliau hanya manut mawon, tanpa berkomentar, apalagi membantahnya. Apa yang dikatakan kiai, itulah yang beliau lakukan. Apa yang dilarang kiai, itulah yang beliau tinggalkan. Sikap sam’an wa tha’atan pada pitutur kiai, tampaknya menjadi kesadaran hidup beliau.

            Ketiga, bila ada seorang kiai mampir kerumah beliau, hanya persoalan agama yang diobrolkan. Ketika kiai kundur, beliau mewajibkan diri memberikan sangu (amplop) padanya. Bahkan, beliau mengantarkan kiai itu hingga ke pelataran rumah. Ini juga mencerminkan, betapa beliau memiliki sikap yang sangat mulyaaken kiai.

            Dan keempat, setiap hari Senin Manis, beliau beserta istri tercintanya, selalu mengikuti agenda Selapanan Thariqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah di Gilisari Weleri Kendal Jawa Tengah, dibawah bimbingan mursyid KH Mas’ud. Setiap sowan kesana,beliau selalu membawa oleh-oleh tahu-tempe kesukaan kiai. Kala bubaran ngaji, beliau satu-satunya santri yang selalu diminta untuk tidak buru-buru pulang, demi menemani kiai dahar. Terkadang, karena faktor usia yang kian senja, KH Mas’ud tidak betah duduk di lantai dan lebih betah duduk di kursi. Saat itu, beliau (Yaqub) mendekatinya untuk sekedar memijat kaki sang kiai.

            Ketika putranya, Damanhuri, nyantri di Tebuireng sudah sekitar 1,5 tahun, beliau menengoknya. Dalam perjalanan tilik itu, beliau sowan dan nginep di rumah beberapa kiai. Sesampainya di Semarang, beliau nginep di rumah kiai. Sesampainya di Rembang, beliau juga nginep di rumah kiai. Sesampai di Sarang, beliau juga nginep di rumah kiai. Begitu juga ketika beliau sampai di Babad Tuban, rumah kiai yang menjadi tempat nginep.

            Setiba di Tebuireng beliau kluyar-kluyur di desa sekitar pesantren dan kenal dengan Mbah Sholeh asal Ds.Proto Pekalongan. Kluyar-kluyur beliau ternyata bertujuan untuk mencari busana peninggalan Hadhrah al-Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri pesantren Tebuireng dan pendiri Jam’iyyah NU. Beliau berhasil mendapatkan Kethu dan tasbih KH Hasyim. Kedua peninggalan KH Hasyim itu dijadikan bukti bahwa beliau pernah sowan ke Tebuireng.

            Sesampai di kampung, kethu KH Hasyim beliau simpan, hingga akhirnya rusak, karena dipakai drumbenan oleh putra keempatnya, Mustafa ( kini Prof.Dr.KH. Ali Mustofa Yaqub, MA, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat Jakarta ). Sementara tasbih KH Hasyim beliau taruh di Masjid Jami’ Darussalam, hingga suatu saat rusak dan hilang.

            Suatu ketika, setelah putra-putra beliau mulai meraih kesuksesan, KH Muhaiminan bertanya kepada KH. Achmad Damanhuri Yaqub: “ Jare, Bapakmu tau oleh kethune Mbah Hasyim. Sekarang masih ada ?”.

            “ kethunipun rusak, karena dipakai drumbenan Mustafa, waktu hujan”.

            “ Yow wis, ora opo-opo, Kuwi tukule prefesor”.

Khadimah

            Itulah biografi ringkas Yaqub bin Djoyotaruno, seorang yang tidak bisa ngaji kitab gundul kendati sempat nyantri tiga tahunan, tapi Allah SWT menentukan keturunan-keturunan beliau menjadi kiai-kiai yang berpengaruh. Ternyata, menurut KH Muhaiminan Gunardho, rahasianya adalah beliau sangat mencintai dan memuliakan para kiai.

            Melihat kemahabesaran dan keserbamungkinan kehendak Allah Swt itu, tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang mustahil terjadi. Kemustahilan itu hanya ada dalam pikiran manusia, tapi tidak dalam iradah (kehendak) Allah SWT. Sebab itu sudah selayaknya kita menjadikan perjalanan hidup beliau sebagai ibrah yang sangat berharga.

            Sebagai generasi beliau, kita – anak, cucu, atau cicit – juga sudah seharusnya meneladani sikap ta’dhim beliau terhadap para pewaris nabi itu. Sebab, mereka adalah tentara mulia Allah SWT  yang bertugas menyampaikan risalah-Nya di muka bumi ini, demi kepentingan kita semua, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

            Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Kekurangan niscaya ada dimana-mana, karena kesempurnaan hanya milik Allah Swt. Demi perbaikan biografi singkat ini dimasa datang, masukan, teguran dan kritikan yang membangun senantiasa kami nantikan dengan setia.

Wa Allah a’lam.

Pondok Pesantren Darussalam

Kemiri ,05 September 2011 M

POHON NASAB
YAQUB (Alm) + HJ. SITI HABIBAH (Alm)

diupdate pada Juli 2021

1. KH. ACHMAD DAMANHURI YAQUB (Alm) + HJ. SITI ROCHMAH (Alm)
a. KH. Khotibul Umam + Hj. Titik Nur Hidayati (Al Hafidhah)
– Arini Sabila Anjani, S. Pd
– Mohamad Adib Hakim
– Mohamad Habiburrahman
– Hasna ‘Athifa
b. Hj. Uswatun Hasanah, S.Ag. + H. A.S. Burhan, S.Ag.
– Alaik Rahman Sorakdeka
– Meila Faiza Salmadara
– Annisa Lintang Jannata
c. Hj. Khoiro Ummatin, S.Ag., M.Si. + Imam Ghazali, S.Ag., M.Si.
– Mohamad Wildan Hilmi
– Silvi Nadiatul Hasanah
– Asya Aisyal Mardhiyah
d. KH. Ali Mas’ud Ahmad, S.Ag. + Hj. Nur Inayah (Al Hafidhah)
-Luthfiaturrahmaniyah
-Muhammad Mufid Mas’ud
-Naili Zuhairota Jannati
e. Asmaul Husna, S.Ag., M.Pd. + Moh. Maghfur Sholahuddin, S.Ag.
f. KH. Misbakhul Huda Ahmad, S.Th.I. M. Pd (Alm)+ Hj. Nur Kholilah, S.Pd.I. (Al Hafidhah)
– Mohamad Nur Fuady
– Mohamad Shofy Mubarok

2.ALI DJUFRI YAQUB, B.A. (Alm) + ZAINIYAH (Alm)
a. Hj. Titik Nur Hidayati (Al Hafidhah) + Drs. H. Khotibul Umam
Idem 1.a.
b. Hubaib Izzuddin, S.Ag. + Nur Handayati, S.T.
– Hawwin ‘Alaina
– Hasbunallah
– Syifa Afiyka
c. Hana Mufida, S.Ag. + Sholahuddin Malik, S.Ag., M.Si.
– Fikri Faizul Hadi
– Rafi Ayubi Malik
– Saifur Rahman Malik
d. Siti Hajar Luthfiah, S.Pd.I. + Dadang Hidayat, S.Pd.I.
– Nabila Rahma Zahra
– Riyadh el-Afkar Hidayat

3. SRI MUKTI YAQUB + SYAMSURI
a. Nur Aini Rozanah + Drs. Miswanto
– Ani Dita Orisiana, S. Pd + Kiswanto, S. Pd
   * Orisia Azzahra Ramadhani
   * Muhammad Syahrial Abimanyu
– Hanif Orisa Manggala
– Albiansyah Hidayatullah
– Arina Manasikana
b. Hj. Nur Aina Hayati + Drs. H. Arif Cahyanto
– Yasicha Putri Rizkiana, S. E + Solikhul Hidayat, A. Md. Kom
* Yasna Alnaira Mecca
– Lafran Putra Rosyada
– Satria Wicaksono
– Dara Aulia Rahmatika
– Gadis Aulia Rahmanita
c. Lukman Hakim, S.Ag. + Fitri Erawati
– Khalida Zuhaira
– Zulfa Nur Azkia
– Nubail Kenzie Hamada
d. Mohamad Ali Fathurrahman + Windiah (Bidan)
– Meyzalia Aninda Tiara
– Naila Ahsana Najwa
– Najmy Nailuufaru Madina
e. Mohamad Burhanuddin (Alm) + Nur Hayati
– Mohamad Azka Hakim

4. Prof. DR. KH. ALI MUSTAFA YAQUB, M.A. + HJ. ULFAH USWATUN HASANAH, S.AG.
a. KH. Zia Ul Haramein, Lc, M. Si + Sari Ratna Dewi, S. Sos
– Tibyan Ali Mugaffi
– Kinan Ali Abqori

5.H. MOH. ZAINUL MUTTAQIEN YAQUB + DRA. HJ. ROGHIBAH ZAINUDDIN
a. H. Ahmad Shalahuddin Zen, S. Kom + Fitri Nurjannah, S. T
-Muhammad Muhsin Shafi
b. Hj. Ihah Rosihah, S. Pd + Widianto, S. T
-Azka Aulia Rahma
-Hanin Shafiyyah Mumtazah
c. Ahmad Faza Farkhani, S. T
d. Zahratul Ashfiya

6. HJ. ZUHROTUN NISA YAQUB (Almh) + KH. SYAMSUL MAARIF SYAHID
a. Dr . KH. Nurul H. Maarif, M.A + Hj. Dede Saadah Syatibi, S.Th.I.
– Nilna Dina Hanifa
– Nabila Hawna Salwa (Alm)
– Rayya Geyl Moemtaazah
b.Nurun Nikmah Maarif, S.Th.I. + Sulaimanul Azab, S.Th.I. (Al Hafidh)
– Muh. Sya’roni Hadziq
– Ahmad Syauqy (Alm)
– Muhammad Faziul Firdaus
– Fatimah Alkayyisah
c. Kamilatunnisa Maarif, S. Pd +

Jumlah Putra-putri, Cucu, Cicit
Putra-putri : 6 (3 putera, 3 puteri)
Cucu : 23 orang
Cicit :42orang

Petuah Mbah Siti Habibah

“Dadio wong bener lan pinter. Ojo dadi wong pinter, nanging ora bener.

Mending wong bener, senajan ora pinter. Tinimbang wong pinter, nanging ora bener

Related Posts